Senin, 10 Desember 2012

Sketsa Hujan

          Ketika hujan semakin lebat, kamu tak kunjung bergeming dari tempat semula. Menatap lekat kepadaku seolah memohon. Itu gila saat kamu tak berkedip meski kilat membuatku tersentak.
Tidak salah lagi, yang ada di genggam tangan kirimu adalah payung, kenapa tidak dipakai saja?
Aku ingin beranjak, tapi melihatmu di sudut sana membuatku urung pergi. Aku ingin menghampirimu, namun aku hampir tidak punya alasan untuk itu, bahkan aku masih berada di sini juga karena menunggu hujan reda. Aku tidak pernah membawa payung.
          Sambil sesekali menyruput kopi, aku terus membuat sketsa , kali ini tentang bocah kecil dan payungnya, sedikit beraroma 'manga'. Ku lirik ke arahmu, aku kira sudah pergi, ternyata kamu hanya minggir sedikit dan berteduh di depan toko alat-alat musik.
Sebenarnya siapa yang kamu tunggu, karena aku tidak lagi melihat tatapan itu, dia menunduk.
           Tapi setidaknya aku lega dia tidak lagi kehujanan.
           Jendela kedai kopi ini cukup lebar, dan aku bisa dengan jelas melihat langit yang mulai cerah. Gerimisnya cantik sekali, aku segera membayar untuk secangkir kopi dan sepotong kue coklat  yang sudah habis sedari tadi.
Mengemasi kertas-kertas gambarku agar tidak basah dan melenggang keluar kedai dengan bersemangat. Angin dingin berhembus saat kubuka pintu kaca kedai. Meski dingin kuhirup dalam-dalam juga, hujan kali ini istimewa karena sepertinya ini hujan pertama di bulan Desember.
          Di tepi tangga kecil depan kedai, melangkah perlahan dan menengadahkan tangan untuk merasakan tetes hujan, ada bayangan di telapak tangan, sepertinya langit batal menghentikan hujan.
Aku salah, ada seseorang memayungiku, tersenyum dan menyodorkan payungnya padaku. Lelaki itu, yang menatapku saat hujan lebat tadi, siapa kamu? siapa orang di depanku ini?
           

Hujan senja

Warna senja kali ini berbeda, tak ubahnya seperti dalam cerita horor, dominan dengan warna hitam dan abu. Hujan menyamarkan warna sawah dan daun bambu di seberang.
          Aromanya masih sama dengan hujan-hujan yang sebelumnya, khas dan menenangkan. Namun suaranya kali ini seperti lulaby dan aku ingin tidur seketika
          Selamat tidur -untukku- hujan, nanti saat aku terbangun, aku  harap setidaknya masih ada sisa gerimis untuk menemaniku makan malam.

Minggu, 09 Desember 2012

sebuah pagi

           Sebuah pagi yang aku buat luar biasa, percayalah...cuma hasil karya Tuhan yang bisa mencengangkan seluruh indra. Dan rasa kopi ini adalah keajaiban yang tiada terkira untukku.
           Aku pernah mendengan dari seseorang, di salah satu stasiun tivi dia mengatakan -dia juga mengutip kata-kata dari gurunya- bahwa "ketika kita bisa menangis saat melihat daun kering terjatuh dan menyentuh tanah, maka pada saat itulah kita benar-benar telah mengenal Tuhan" ...at least, benar-benar merasakan kalau Tuhan itu ada.
           Anyway, beberapa hari ini aku disibukkan dengan khayalan-khayalan baru yang menyenangkan, ide-ide tentang sketsa dan lukisan aquarel dengan tema balon warna-warni dengan latar alam ataupun kota tapi memiliki kesan vintage. Mungkin aku akan sedikit kesulitan untuk membuat efek warna transparan agar benar-benar terlihat cerah, tak masalah, itu hanya sebuah proses.
           Sempurna dalam sebuah karya itu tetap saja relatif, kalau bertemu dengan karakter akan beda lagi hasilnya, yang pasti aku masih berada dalam tengah-tengah, mencari-cari dan waspada menempatkan goresan. Satu lagi, aku masih membutuhkan sebuah kamera, ada banyak hal yang ingin ku abadikan, sedang memoriku tidak akan sanggup menyimpan semua detail itu. Objek-objek yang nantinya akan aku duplikasi kembali oleh tanganku sendiri.

Selasa, 27 November 2012

24th

         Akhirnya di bulan yang ke-11 menginjak umur 24 tahun, aku hampir hidup seperempat abad, dan itu artinya selama itu juga aku belajar mengenai teramat sangat banyak sekali hal baik itu 'baik' ataupun buruk.
Ketika raga dan ruh ku masih menyatu hingga detik ini, adalah sebuah keajaiban yang harus aku syukuri, i hope rain fall soon...
        The Creator of life...give me more power to life more happily...

         Saat ini sembari menunggu hujan, aku bercerita pada segelas kopi yang sudah hilang aroma karena tak panas lagi. Padanya aku bercerita tentang kehidupan para peri yang masih aku percaya hingga kini, tentang mereka yang tidak pernah menampakkan diri hingga aku balik bertanya "apakah mereka juga mengalami kepunahan?".
         Gelas kopi tak bergeming.
         Aku bercerita tentang tulisan-tulisanku yang tidak pernah selesai, cerita yang selalu berakhir sebelum klimaks..yah, yang pernah terselesaikan pun tidak (belum) seperti yang aku inginkan. Harusnya sekarang aku sudah menjadi penulis naskah fillm seperti Titien Wattimena. Harapku. Jadi ingat betapa irinya aku pada J. R. R. Tolkien.
         Sebagai kelanjutan aku memberitahunya kalau aku juga ingin menjadi seorang sutradara, seperti Riri Riza atau Mira Lesmana, juga Steven Spielberg. Sedari dulu ingin sekali bergabung dengan Walt Disney, beraneka film dan animasi yang selalu membuatku ternganga itu...i wish i can...
         Aku adalah seorang Vernian, kataku dengan tegas padanya. Meskipun tidak seutuhnya tapi aku ingin menelusuri sendiri semua petunjuk yang dituliskan Jules Verne pada setiap bukunya. Biarlah meski kekanakan tapi itulah bagiku kebahagiaan. Adalah ketika aku percaya pada banyak hal yang orang lain bahkan tak menggubris.
         Sambil memiringkan kepala aku mengingat kembali hal apa yang aku inginkan. Hmmm...kamera DSLR, sampai sekarang belum juga aku dapatkan, uangku belum cukup.
Satu tegukan lagi, dan aku menjadi makin bahagia. Bukannya punya banyak mimpi itu menyenangkan. Sampai sekarang setidaknya aku masih mengasah kemampuan untuk menjadi komikus, meskipun hal yang paling menjemukan adalah menggambar satu karakter untuk beberapa kali.
          Dan kali ini aku ingin merayakan dengan segelas kopi, untuk segenap rasa syukur bahwa aku masih terobsesi dengan mimpi-mimpi di luar nalar orang lain.

a Thousand years

         Life to be a vampire...sometime it's flirt me, eventhough vampire is not really alive, they never breathing.
They so charming...i don't know...just so carried away with they stacked body and confident smile, and the way they walking too.
         Somehow, kehidupan di luar nalar itu menjadi alternatif paling menyenangkan, dan kemudian seiring dengan khayalan yang makin menjadi, gambaran-gambaran skenario di luar realita mengambil alih proses kehidupan nyata. I don't khow what to say, hanya saja sebuah khayalan itu begitu isimewa ketika dengan itu aku menjadi merasa lebih dari sekedar hidup.
          Banyak film dan kisah-kisah menarik bercerita mengenai vampir dan kehidupannya, Van Helsing, Blade, The Twins Effect dan banyak lagi hingga sampai pada Twilight Saga. Nalar atau tidak nalar yang jelas aku tertarik, cerita itu tidak mungkin tanpa dasar atau sejarah. Pada akhirnya meskipun terdapat pngurangan atau melebih lebihkan, kalau dikemas dengan totalitas pasti akan tetap menjadi alat brain storming yang paling ampuh untuk para pecinta fiksi (like me).
          Menginspirasi...pastinya sangat,sangat membuat galau, bagaimana tidak, bertahun-tahun memimpikan untuk menjadi script writer dan sutradara salah satunyapun belum tercapai. Ayolaaah, paling tidak aku ingin membuat film, apa harus menunggu a thousand years lagi.
          Kembali ke vampir, tentunya i'm falling in love with them. Bagaimana  seorang Stephenie Meyer bisa punya ide menulis Twilight Saga, oke besok-besok aku mau tanya langsung
Fine...just lil bit unconsentrate..